Senin, 16 Maret 2020

CERBUNG - Sepotong Tahu Goreng (Part 1)

Sepotong Tahu Goreng (Part 1)
Oleh : Adira Greisy

Mataku mengawasi sekeliling, berharap menemukan Dila atau Rafa. Namun, ternyata sia-sia, mereka tak kunjung kutemukan. Hingga suara nyaring Bu Tantri, ibunya Dila mengagetkanku.

"Ayu ... cepat panggil Dila! Ini tahunya sudah matang."

"Ba-baik, Bu." 

Belum sempat kupanggil, Dila sudah muncul duluan. Dia berjalan ke arahku, dengan Rafa di belakangnya. Ternyata mereka bersembunyi di samping kandang ayam. 

Kami bertiga masuk ke dalam rumah Dila. Rumah yang terbilang lumayan besar dan paling bagus di desa kami. Terasnya pun luas, banyak tanaman hias juga. Ayah Dila adalah Kepala Desa, sudah menjabat sekitar empat tahun.

"Bu ... tahunya masih panas, nih!" teriak Dila.

"Minta si Ayu buat nyuapin, ya. Oh, iya, Rafa ke sini. Bantuin nimba air di sumur. Pompa airnya lagi rusak," perintah Bu Tantri.

"Baik, Bu Tantri," ucap Rafa.

Rafa berlalu ke belakang, mengikuti Bu Tantri. Sedangkan aku duduk di samping Dila. Mengambil tahu goreng yang memang masih panas, lalu meniupnya dan menyuapkan ke mulut Dila.

Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, Dila dimanja oleh orangtuanya. Hingga di usia menginjak enam belas tahun, sudah duduk di kelas satu SMK, makan saja dia masih minta disuapin. Sungguh beruntung dia, tidak perlu merasakan kejamnya dunia.

Aku masih terus menyuapi Dila, dia terlihat begitu menikmati tahu gorengnya. Sedangkan aku hanya bisa menelan saliva. Meski sudah berteman dengannya sejak masih kecil, tapi sifatnya begitu pelit. Bahkan secuil tahu pun, aku tidak diberi.

Hari sudah beranjak sore, aku dan Rafa pamit pulang. Sesampainya di rumah, kulihat wanita teristimewa di dunia yaitu Ibuku. Tangannya terlihat sibuk membuat kerajinan tangan, celengan dari kardus bekas dibungkus kertas kado.

"Assalamualaikum. Bu, Ayu sudah pulang," ucapku sambil mencium tangannya takzim.

"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, anak Ibu yang cantik sudah pulang."

"Hehe, Ibu bisa saja. Iya, Bu. Ayu laper, Bu."

"Ya sudah, makan dulu. Ibu tadi masak tumis daun pepaya dan sambal teri kesukaanmu."

"Alhamdulillah. Ehmm, Bu ... besok beli tahu, ya, Bu. Ayu ingin sekali makan tahu goreng."

"Iya, Nak. Besok Ibu belikan, ya. Semoga rezeki Ibu banyak, Nak. Aamiin."

"Aamiin."

Malam harinya terasa begitu dingin. Udara masuk melalui dinding rumahku sangat terasa. Maklum rumah peninggalan almarhum Bapakku, masih berdinding anyaman bambu. 

Mengingat tentang almarhum Bapak, membuatku merasa rindu. Apa yang paling menyakitkan? Yaitu ketika sudah berbeda alam dengan orangtua. Mau bertemu susah juga, hanya melalui untaian doa. Bapak, Ayu rindu padamu.

Andai saja, Bapak masih ada. Mungkin kehidupanku dan Ibu, tidak sesulit ini. Bahkan sekadar menginginkan sepotong tahu goreng, itu susah untuk didapat. Ya Allah, lancarkanlah rezeki Ibuku. Aamiin.

***

Keesokan harinya seusai sekolah, aku langsung berlari pulang ke rumah. Pintu terbuka, itu tandanya Ibu sudah pulang dari sawah. Semenjak kepergian Bapak, Ibu adalah tulang punggung keluarga. Kerja apa saja tanpa ragu beliau lakukan. Demi aku, anak semata wayangnya. 

"Assalamualaikum, Bu."

"Waalaikumsalam, Nak. Alhamdulillah, anakku sudah pulang."

"Iya, Bu. Bu ...,"

"Iya, Nak. Ibu sudah masak tahu goreng itu. Ayo kita makan bersama, Nak."

"Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah. Terima kasih, Bu."

Aku sangat bahagia, keinginanku siang ini terwujud. Bisa memakan tahu goreng. Meski hanya beberapa potong, rasa inginku sudah terpenuhi.

Kulihat raut bahagia terpancar dari wajah Ibuku. Senyumnya indah merekah. Sepertinya beliau bahagia, melihat anaknya bahagia. Kebahagiaan dari hal yang sangat sederhana.

Hari-hari berikutnya, jika Ibu memiliki uang lebih, aku selalu meminta lauk tahu goreng. Seperti tiada rasa bosan, aku sangat menyukainya. Ibuku sampai heran pada anak gadisnya.

***

Dua tahun telah berlalu, aku sudah lulus SMK. Dari pihak sekolah disalurkan bekerja, di salah satu pabrik sepatu di kota Tangerang. Jauh dari rumah, memaksaku untuk tinggal di kos.

Merasakan hidup jauh dari Ibu, jauh dari rumah. Aku rindu, Bu. Rindu Ibu, rindu masakannya juga. Apalagi tahu goreng yang menjadi lauk primadona bagiku.

Selepas dari pabrik, aku memutuskan untuk mampir. Mampir ke ATM, setelah itu membeli tahu goreng. Biasanya, di sepanjang jalan menuju arah kos, banyak penjual gorengan.

"Mang, beli tahu gorengnya, ya. Sepuluh ribu saja."

"Iya, Neng. Sebentar, ya."

"Mamang asli dari Sumedang?" tanyaku.

"Hehe, tidak, Neng. Mamang aslinya Kediri, Jawa Timur."

"Eh, kok jualan tahu Sumedang? Harusnya tahu Kediri, Mang," ucapku sambil tertawa. Lumayan melepas penat, setelah bekerja seharian.

"Ah, Neng. Bisa aja, hehe. Ini, tahunya, Neng."

"Terima kasih, ya," ujarku sambil menerima bungkusan berisi tahu goreng.

Aku langsung melahap satu per satu tahu gorengnya. Menikmatinya, lalu membayangkan jika ini masakan Ibu. Bu, anakmu rindu!

Mungkin aku sudah terbiasa jauh dari Bapak. Kali ini karena tuntutan pekerjaan, aku juga jauh dari Ibu. Semoga, Allah selalu menjaga Ibuku, wanita teristimewaku.

Doakan selalu anakmu, Bu. Doakan aku menjadi orang yang sukses. Bukan hanya mampu membeli sepotong tahu goreng, tetapi bisa merenovasi rumah juga. Aamiin.

Malam semakin larut. Namun, aku percaya masih banyak manusia dan kendaraannya berlalu-lalang, menyusuri jalanan kota. Kucoba memejamkan mata, selalu saja terbayang sosok Ibu tercinta. 

Rinduku sudah menguar menuju angkasa. Semoga Allah masih mengizinkan kita untuk berjumpa. Ibu ... aku rindu, ingin berada dekat denganmu.

Tangerang Selatan, 16 Maret 2020


NB : Adira Greisy on FB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar