Selasa, 17 Maret 2020

CERBUNG - Sepotong Tahu Goreng (Part 2)

Sepotong Tahu Goreng (Part 2)
Oleh : Adira Greisy

Hari terus berlalu, mulai terbiasa jauh dari Ibu. Namun, sesungguhnya aku tidak nyaman dengan keadaan ini. Pulang kerja, lalu sendirian di dalam kos, hanya berteman sepi.

Tidak terasa sudah sebulan aku kerja di pabrik. Hari yang dinanti telah tiba. Gaji pertamaku sudah kugenggam di tangan.

"Hai, Ayu ...," sapa Nadin, teman satu shift.

"Iya, Nad. Cie, senyum terus yang sudah terima gaji."

"Hehe, iya, dong. Temenin ke ATM, ya. Aku mau kirim uang untuk keluarga di kampung. Adikku kemarin telepon, katanya belum bayar SPP sekolah."

"Wah, ayo, Nad. Aku juga mau kirim uang untuk Ibuku."

Aku dan Nadin berjalan menuju ATM terdekat. Sesampainya di sana, ternyata lumayan ramai. Jadi, harus antre dulu.

Ini adalah pengalaman pertamaku. Sebelumnya aku tidak pernah ke ATM. Lagian tidak ada saudara yang kirim uang lewat rekening.

"Yu, aku udah, nih. Buruan, gantian kamu," ucap Nadin.

"Eh, Nad. Aku ... belum bisa pakai mesin ATM."

"Hah? Serius kamu?"

"Iya," ucapku sambil menunduk.

"Terus kamu juga belum punya rekening bank?"

"Iya, Nadin. Bagaimana?

"Iya sudah. Kamu setor tunai pakai rekeningku. Aku ajarin sampai bisa, ya."

Akhirnya aku pun bisa mengirim uang ke Ibu di kampung. Tentunya karena bantuan dari Nadin. Beruntungnya, aku punya teman sebaik dia.

Ibuku belum ada rekening tabungan sendiri. Aku menitipkan uangnya di Bu Tantri. Meski terkenal agak pelit soal materi, tetapi untuk urusan tolong-menolong dia tidak segan untuk membantu. Tidak memandang dari keluarga berada atau tidak, pasti dia bantu.

Sebelum kembali ke kos, aku dan Nadin berencana untuk mengisi perut. Menambah lagi energi agar kuat menjalani hari. Suara perut yang keroncongan, sudah tidak bisa ditahan. Bagaikan konser seribu penyanyi. Akhirnya, langkah kami terhenti saat melihat gerobak mi ayam dan bakso.

"Nad, kamu mau pesan apa?"

"Aku bakso aja, Yu. Soalnya bosan makan mi."

"Oh, oke. Aku juga pesan bakso, deh. Minumnya?"

"Es teh manis. Harus manis seperti aku yang tanpa pemanis," ucap Nadin diiringi senyum yang terkembang. Tampaklah kedua lesung pipinya.

"Hemm ... iya-iya, kamu manis," ujarku. "Tapi, bohong. Hahaha."

Kemudian aku memesan dua mangkuk bakso, segelas es teh manis, dan segelas es jeruk manis.

Suasana kota Tangerang yang lumayan panas, membuat es yang kami pesan sudah terminum setengah. Padahal bakso pesanan kami belum datang. Sepertinya nanti harus tambah pesanan untuk esnya.

"Ini, Neng. Bakso spesial, khusus untuk gadis-gadis nan cantik. Silakan dinikmati," ucap Abang yang jualan bakso. Sambil cengigisan dan berlalu, melayani pembeli lainnya.

"Hehehe. Terima kasih, Bang." Aku dan Nadin kompak berujar

Meski berada di kaki lima, mi ayam dan bakso di sini selalu ramai pembeli. Bahkan tak jarang kami harus antre untuk mendapatkannya. Terletak di kaki lima, tetapi rasa bintang lima.

Tiba-tiba saja teringat Ibu di kampung. Jarang sekali kami makan bakso seperti ini. Sesekali makan, jika tetangga ada hajatan dan menyuguhkan bakso.

***

Sesampainya di kos, kami di sambut oleh Mega dan Siska. Mereka teman satu shif juga. Raut wajah mereka tampak gembira, efek gajian sepertinya.

"Hai, kalian dari mana?" tanya Mega.

"Makan bakso tadi," jawab Nadin singkat.

"Habis gajian itu makan pizza, burger, atau fried chicken. Malah bakso!" saut Siska.

"Nah, betul itu kata Siska."

"Terserah kita, dong!"

Nadin mulai terpancing emosinya. Memang Mega dan Siska orangnya agak julid. Kadang tidak suka, jika ada orang lain yang tidak seperti kemauannya.

"Sudah. Kalian jangan ribut. Kita itu teman. Jangan buang energi kita, buat perdebatan yang tidak berarti," ucapku. "Ya sudah, aku mau istirahat dulu, ya."

"Hmm ... ayo kita pergi, Siska!"

Mega dan Siska pergi begitu saja. Sedangkan aku masuk ke kamar kosku. Begitu juga dengan Nadin.

Merebahkan tubuh di atas kasur sungguh nikmat. Kupandangi fotoku dan Ibu yang menjadi wallpaper hp. Bu, Ayu rindu.

Baru saja memejamkan mata, ada suara ketukan di pintu.

"Iya, sebentar." Dengan lemas kuberjalan menuju pintu. "Oh, Mpok Atik."

"Iya, Neng Ayu. Uang buat kos sudah ada?"

"Sudah, Mpok. Sebentar, ya."

Kuambil uang di dompet. Setelah memastikan jumlahnya sesuai, kuserahkan ke Mpok Atik.

"Pas, Neng. Terima kasih, ya. Oh, iya. Kamu tidak mau pindah ke kos atas? Di sana sudah dipasang AC. Jadi, kan, tidak gerah. Cuma tambah tiga ratus ribu."

"Tidak, Mpok. Ayu, di sini saja."

"Oh, ya sudah. Mpok permisi, ya."

Kututup pintu dan kembali merebahkan diri di kasur. Uang tiga ratus ribu bagiku lumayan sekali. Tidak masalah harus merasa gerah, toh masih ada kipas angin. Ada hal yang lebih penting dan bermanfaat, semoga bisa segera menabung untuk merenovasi rumah Ibu. Doakan anakmu, Bu.

Tangerang Selatan, 17 Maret 2020

NB : Adira Greisy on FB

Senin, 16 Maret 2020

CERBUNG - Sepotong Tahu Goreng (Part 1)

Sepotong Tahu Goreng (Part 1)
Oleh : Adira Greisy

Mataku mengawasi sekeliling, berharap menemukan Dila atau Rafa. Namun, ternyata sia-sia, mereka tak kunjung kutemukan. Hingga suara nyaring Bu Tantri, ibunya Dila mengagetkanku.

"Ayu ... cepat panggil Dila! Ini tahunya sudah matang."

"Ba-baik, Bu." 

Belum sempat kupanggil, Dila sudah muncul duluan. Dia berjalan ke arahku, dengan Rafa di belakangnya. Ternyata mereka bersembunyi di samping kandang ayam. 

Kami bertiga masuk ke dalam rumah Dila. Rumah yang terbilang lumayan besar dan paling bagus di desa kami. Terasnya pun luas, banyak tanaman hias juga. Ayah Dila adalah Kepala Desa, sudah menjabat sekitar empat tahun.

"Bu ... tahunya masih panas, nih!" teriak Dila.

"Minta si Ayu buat nyuapin, ya. Oh, iya, Rafa ke sini. Bantuin nimba air di sumur. Pompa airnya lagi rusak," perintah Bu Tantri.

"Baik, Bu Tantri," ucap Rafa.

Rafa berlalu ke belakang, mengikuti Bu Tantri. Sedangkan aku duduk di samping Dila. Mengambil tahu goreng yang memang masih panas, lalu meniupnya dan menyuapkan ke mulut Dila.

Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, Dila dimanja oleh orangtuanya. Hingga di usia menginjak enam belas tahun, sudah duduk di kelas satu SMK, makan saja dia masih minta disuapin. Sungguh beruntung dia, tidak perlu merasakan kejamnya dunia.

Aku masih terus menyuapi Dila, dia terlihat begitu menikmati tahu gorengnya. Sedangkan aku hanya bisa menelan saliva. Meski sudah berteman dengannya sejak masih kecil, tapi sifatnya begitu pelit. Bahkan secuil tahu pun, aku tidak diberi.

Hari sudah beranjak sore, aku dan Rafa pamit pulang. Sesampainya di rumah, kulihat wanita teristimewa di dunia yaitu Ibuku. Tangannya terlihat sibuk membuat kerajinan tangan, celengan dari kardus bekas dibungkus kertas kado.

"Assalamualaikum. Bu, Ayu sudah pulang," ucapku sambil mencium tangannya takzim.

"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, anak Ibu yang cantik sudah pulang."

"Hehe, Ibu bisa saja. Iya, Bu. Ayu laper, Bu."

"Ya sudah, makan dulu. Ibu tadi masak tumis daun pepaya dan sambal teri kesukaanmu."

"Alhamdulillah. Ehmm, Bu ... besok beli tahu, ya, Bu. Ayu ingin sekali makan tahu goreng."

"Iya, Nak. Besok Ibu belikan, ya. Semoga rezeki Ibu banyak, Nak. Aamiin."

"Aamiin."

Malam harinya terasa begitu dingin. Udara masuk melalui dinding rumahku sangat terasa. Maklum rumah peninggalan almarhum Bapakku, masih berdinding anyaman bambu. 

Mengingat tentang almarhum Bapak, membuatku merasa rindu. Apa yang paling menyakitkan? Yaitu ketika sudah berbeda alam dengan orangtua. Mau bertemu susah juga, hanya melalui untaian doa. Bapak, Ayu rindu padamu.

Andai saja, Bapak masih ada. Mungkin kehidupanku dan Ibu, tidak sesulit ini. Bahkan sekadar menginginkan sepotong tahu goreng, itu susah untuk didapat. Ya Allah, lancarkanlah rezeki Ibuku. Aamiin.

***

Keesokan harinya seusai sekolah, aku langsung berlari pulang ke rumah. Pintu terbuka, itu tandanya Ibu sudah pulang dari sawah. Semenjak kepergian Bapak, Ibu adalah tulang punggung keluarga. Kerja apa saja tanpa ragu beliau lakukan. Demi aku, anak semata wayangnya. 

"Assalamualaikum, Bu."

"Waalaikumsalam, Nak. Alhamdulillah, anakku sudah pulang."

"Iya, Bu. Bu ...,"

"Iya, Nak. Ibu sudah masak tahu goreng itu. Ayo kita makan bersama, Nak."

"Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah. Terima kasih, Bu."

Aku sangat bahagia, keinginanku siang ini terwujud. Bisa memakan tahu goreng. Meski hanya beberapa potong, rasa inginku sudah terpenuhi.

Kulihat raut bahagia terpancar dari wajah Ibuku. Senyumnya indah merekah. Sepertinya beliau bahagia, melihat anaknya bahagia. Kebahagiaan dari hal yang sangat sederhana.

Hari-hari berikutnya, jika Ibu memiliki uang lebih, aku selalu meminta lauk tahu goreng. Seperti tiada rasa bosan, aku sangat menyukainya. Ibuku sampai heran pada anak gadisnya.

***

Dua tahun telah berlalu, aku sudah lulus SMK. Dari pihak sekolah disalurkan bekerja, di salah satu pabrik sepatu di kota Tangerang. Jauh dari rumah, memaksaku untuk tinggal di kos.

Merasakan hidup jauh dari Ibu, jauh dari rumah. Aku rindu, Bu. Rindu Ibu, rindu masakannya juga. Apalagi tahu goreng yang menjadi lauk primadona bagiku.

Selepas dari pabrik, aku memutuskan untuk mampir. Mampir ke ATM, setelah itu membeli tahu goreng. Biasanya, di sepanjang jalan menuju arah kos, banyak penjual gorengan.

"Mang, beli tahu gorengnya, ya. Sepuluh ribu saja."

"Iya, Neng. Sebentar, ya."

"Mamang asli dari Sumedang?" tanyaku.

"Hehe, tidak, Neng. Mamang aslinya Kediri, Jawa Timur."

"Eh, kok jualan tahu Sumedang? Harusnya tahu Kediri, Mang," ucapku sambil tertawa. Lumayan melepas penat, setelah bekerja seharian.

"Ah, Neng. Bisa aja, hehe. Ini, tahunya, Neng."

"Terima kasih, ya," ujarku sambil menerima bungkusan berisi tahu goreng.

Aku langsung melahap satu per satu tahu gorengnya. Menikmatinya, lalu membayangkan jika ini masakan Ibu. Bu, anakmu rindu!

Mungkin aku sudah terbiasa jauh dari Bapak. Kali ini karena tuntutan pekerjaan, aku juga jauh dari Ibu. Semoga, Allah selalu menjaga Ibuku, wanita teristimewaku.

Doakan selalu anakmu, Bu. Doakan aku menjadi orang yang sukses. Bukan hanya mampu membeli sepotong tahu goreng, tetapi bisa merenovasi rumah juga. Aamiin.

Malam semakin larut. Namun, aku percaya masih banyak manusia dan kendaraannya berlalu-lalang, menyusuri jalanan kota. Kucoba memejamkan mata, selalu saja terbayang sosok Ibu tercinta. 

Rinduku sudah menguar menuju angkasa. Semoga Allah masih mengizinkan kita untuk berjumpa. Ibu ... aku rindu, ingin berada dekat denganmu.

Tangerang Selatan, 16 Maret 2020


NB : Adira Greisy on FB

Minggu, 14 Agustus 2016

Bumi Serpong Damai (BSD)


Hari ini Minggu, 14 Agustus 2016.
Aku berencana untuk menemui teman seperjuanganku dulu,  dia bekerja di daerah Lengkong Karya Serpong. Berhubung hari ini aku libur kerja, jadi aku bisa bebas dari rutinitas yang sedikit monoton itu.  Duduk menghadap layar monitor dan menerima pesanan dari costumer. :)

Ku langkahkan kakiku seiring dengan langkah temanku yang bernama Puput. Dia teman sebangku ku dulu waktu SMK,  dari kelas 2 sampai lulus.  Dan sekarang aku dan dia bekerja di tempat yang sama.

Kami menaiki angkot D08 jurusan Ciputat - BSD. Penumpang yang berdesakan,  asap rokok, dan hawa panas sudah biasa. Di perjalanan kali ini,  aku lebih banyak diam,  menghafalkan jalanan kota Tangerang Selatan yang baru sedikit ku ketahui.

Satu persatu penumpang turun,  hingga hanya menyisakan aku dan temanku saja yang masih duduk di bangku penumpang.




"Pak, PasMod masih jauh ya?" dengan sedikit rasa takut kuberanikan diri untuk bertanya.
"Bentar lagi sampai kok Neng, mau ke PasMod ya?" tanya pak sopir kepadaku.
"Iya Pak, mau bertemu dengan temanku."
"Oh..iya Neng turun disini atau depan?"
Puput yang sejak tadi hanya terdiam seribu bahasa, lalu ku senggol tangannya.
"Gimana Put,  turun dimana?"
"Terserah kamu aja ky.. "
"Turun depan situ deh Pak.."
"Iya Neng.. " jawab pak sopir sembari menepikaan angkotnya ke kiri di depan Pintu Timur Pasar Modern BSD.

"Ini Bang.. " tanganku menyerahkan selembar uang 20 ribu.
"Ini Neng kembaliannya.. "
"Iya Pak,  makasih ya.."

Aku dan puput melanjutkan perjalanan menuju PasMod melewati pintu Timur.  Disambut oleh aroma roti yang mengoda selera,  lalu buah-buah yang segarnya luar biasa,  dan lelaki tampan yang tiada duanya,  hahahahah lumayan bisa cuci mata kan.

Kami menjadi bagian dari orang-orang yang berlalu lalang di pasar ini,  entah melakukan transaksi jual beli atau apa,  yang penting jangan jual diri. *peace*

#bersambung

Jumat, 27 Mei 2016

Goodbye Ngawi, see you :*

Air mata yang mengalir seakan tak bisa berhenti. Ketika Deni (Teman istimewaku) dan motor Tigernya mulai membawaku pergi meninggalkan desaku, tempat yang menjadi saksi masa kecilku. Nenekku pun tak kuasa menahan air matanya, melihat cucu yang dirawatnya dari kecil, kini sudah dewasa dan akan pergi ke kota.

Ya, Deni yang mengantarkanku ke Teminal Sidowayah. Masih kuingat dengan jelas, hari itu Sabtu, 16 April 2016, beberapa hari setelah aku dan teman-teman SMK/SMA sederajat melaksanakan UN.
(UN ke-3 dalam hidupku dan pertama kali melaksanakan UN di daerah Ngawi, sebelumnya di Gunungkidul. Spesialnya UN kali ini Berbasis Komputer. GOOD SMKN 1 PARON !!1 )

......

Sesampainya di Terminal Sidowayah, Deni masih menemaniku sampai tiba waktu pemberangkatan bus. Aku pun masih menunggu temanku, ya dia Rika. Salah satu teman dekatku semasa SMK.
Sidowayah, 16 April 2016
Taked By : Deni Ramadhan
Sekitar jam 03.00 waktu daerah setempat, bis Rosalia yang akan membawa kami pun tiba. Tak lupa membaca do'a, satu persatu kaki mulai menaiki bus itu. Dengan diiringgi air mata, aku melambaikan tanganku kearahnya, Deni.