Sepotong Tahu Goreng (Part 2)
Oleh : Adira Greisy
Hari terus berlalu, mulai terbiasa jauh dari Ibu. Namun, sesungguhnya aku tidak nyaman dengan keadaan ini. Pulang kerja, lalu sendirian di dalam kos, hanya berteman sepi.
Tidak terasa sudah sebulan aku kerja di pabrik. Hari yang dinanti telah tiba. Gaji pertamaku sudah kugenggam di tangan.
"Hai, Ayu ...," sapa Nadin, teman satu shift.
"Iya, Nad. Cie, senyum terus yang sudah terima gaji."
"Hehe, iya, dong. Temenin ke ATM, ya. Aku mau kirim uang untuk keluarga di kampung. Adikku kemarin telepon, katanya belum bayar SPP sekolah."
"Wah, ayo, Nad. Aku juga mau kirim uang untuk Ibuku."
Aku dan Nadin berjalan menuju ATM terdekat. Sesampainya di sana, ternyata lumayan ramai. Jadi, harus antre dulu.
Ini adalah pengalaman pertamaku. Sebelumnya aku tidak pernah ke ATM. Lagian tidak ada saudara yang kirim uang lewat rekening.
"Yu, aku udah, nih. Buruan, gantian kamu," ucap Nadin.
"Eh, Nad. Aku ... belum bisa pakai mesin ATM."
"Hah? Serius kamu?"
"Iya," ucapku sambil menunduk.
"Terus kamu juga belum punya rekening bank?"
"Iya, Nadin. Bagaimana?
"Iya sudah. Kamu setor tunai pakai rekeningku. Aku ajarin sampai bisa, ya."
Akhirnya aku pun bisa mengirim uang ke Ibu di kampung. Tentunya karena bantuan dari Nadin. Beruntungnya, aku punya teman sebaik dia.
Ibuku belum ada rekening tabungan sendiri. Aku menitipkan uangnya di Bu Tantri. Meski terkenal agak pelit soal materi, tetapi untuk urusan tolong-menolong dia tidak segan untuk membantu. Tidak memandang dari keluarga berada atau tidak, pasti dia bantu.
Sebelum kembali ke kos, aku dan Nadin berencana untuk mengisi perut. Menambah lagi energi agar kuat menjalani hari. Suara perut yang keroncongan, sudah tidak bisa ditahan. Bagaikan konser seribu penyanyi. Akhirnya, langkah kami terhenti saat melihat gerobak mi ayam dan bakso.
"Nad, kamu mau pesan apa?"
"Aku bakso aja, Yu. Soalnya bosan makan mi."
"Oh, oke. Aku juga pesan bakso, deh. Minumnya?"
"Es teh manis. Harus manis seperti aku yang tanpa pemanis," ucap Nadin diiringi senyum yang terkembang. Tampaklah kedua lesung pipinya.
"Hemm ... iya-iya, kamu manis," ujarku. "Tapi, bohong. Hahaha."
Kemudian aku memesan dua mangkuk bakso, segelas es teh manis, dan segelas es jeruk manis.
Suasana kota Tangerang yang lumayan panas, membuat es yang kami pesan sudah terminum setengah. Padahal bakso pesanan kami belum datang. Sepertinya nanti harus tambah pesanan untuk esnya.
"Ini, Neng. Bakso spesial, khusus untuk gadis-gadis nan cantik. Silakan dinikmati," ucap Abang yang jualan bakso. Sambil cengigisan dan berlalu, melayani pembeli lainnya.
"Hehehe. Terima kasih, Bang." Aku dan Nadin kompak berujar
Meski berada di kaki lima, mi ayam dan bakso di sini selalu ramai pembeli. Bahkan tak jarang kami harus antre untuk mendapatkannya. Terletak di kaki lima, tetapi rasa bintang lima.
Tiba-tiba saja teringat Ibu di kampung. Jarang sekali kami makan bakso seperti ini. Sesekali makan, jika tetangga ada hajatan dan menyuguhkan bakso.
***
Sesampainya di kos, kami di sambut oleh Mega dan Siska. Mereka teman satu shif juga. Raut wajah mereka tampak gembira, efek gajian sepertinya.
"Hai, kalian dari mana?" tanya Mega.
"Makan bakso tadi," jawab Nadin singkat.
"Habis gajian itu makan pizza, burger, atau fried chicken. Malah bakso!" saut Siska.
"Nah, betul itu kata Siska."
"Terserah kita, dong!"
Nadin mulai terpancing emosinya. Memang Mega dan Siska orangnya agak julid. Kadang tidak suka, jika ada orang lain yang tidak seperti kemauannya.
"Sudah. Kalian jangan ribut. Kita itu teman. Jangan buang energi kita, buat perdebatan yang tidak berarti," ucapku. "Ya sudah, aku mau istirahat dulu, ya."
"Hmm ... ayo kita pergi, Siska!"
Mega dan Siska pergi begitu saja. Sedangkan aku masuk ke kamar kosku. Begitu juga dengan Nadin.
Merebahkan tubuh di atas kasur sungguh nikmat. Kupandangi fotoku dan Ibu yang menjadi wallpaper hp. Bu, Ayu rindu.
Baru saja memejamkan mata, ada suara ketukan di pintu.
"Iya, sebentar." Dengan lemas kuberjalan menuju pintu. "Oh, Mpok Atik."
"Iya, Neng Ayu. Uang buat kos sudah ada?"
"Sudah, Mpok. Sebentar, ya."
Kuambil uang di dompet. Setelah memastikan jumlahnya sesuai, kuserahkan ke Mpok Atik.
"Pas, Neng. Terima kasih, ya. Oh, iya. Kamu tidak mau pindah ke kos atas? Di sana sudah dipasang AC. Jadi, kan, tidak gerah. Cuma tambah tiga ratus ribu."
"Tidak, Mpok. Ayu, di sini saja."
"Oh, ya sudah. Mpok permisi, ya."
Kututup pintu dan kembali merebahkan diri di kasur. Uang tiga ratus ribu bagiku lumayan sekali. Tidak masalah harus merasa gerah, toh masih ada kipas angin. Ada hal yang lebih penting dan bermanfaat, semoga bisa segera menabung untuk merenovasi rumah Ibu. Doakan anakmu, Bu.
Tangerang Selatan, 17 Maret 2020
NB : Adira Greisy on FB
Oleh : Adira Greisy
Hari terus berlalu, mulai terbiasa jauh dari Ibu. Namun, sesungguhnya aku tidak nyaman dengan keadaan ini. Pulang kerja, lalu sendirian di dalam kos, hanya berteman sepi.
Tidak terasa sudah sebulan aku kerja di pabrik. Hari yang dinanti telah tiba. Gaji pertamaku sudah kugenggam di tangan.
"Hai, Ayu ...," sapa Nadin, teman satu shift.
"Iya, Nad. Cie, senyum terus yang sudah terima gaji."
"Hehe, iya, dong. Temenin ke ATM, ya. Aku mau kirim uang untuk keluarga di kampung. Adikku kemarin telepon, katanya belum bayar SPP sekolah."
"Wah, ayo, Nad. Aku juga mau kirim uang untuk Ibuku."
Aku dan Nadin berjalan menuju ATM terdekat. Sesampainya di sana, ternyata lumayan ramai. Jadi, harus antre dulu.
Ini adalah pengalaman pertamaku. Sebelumnya aku tidak pernah ke ATM. Lagian tidak ada saudara yang kirim uang lewat rekening.
"Yu, aku udah, nih. Buruan, gantian kamu," ucap Nadin.
"Eh, Nad. Aku ... belum bisa pakai mesin ATM."
"Hah? Serius kamu?"
"Iya," ucapku sambil menunduk.
"Terus kamu juga belum punya rekening bank?"
"Iya, Nadin. Bagaimana?
"Iya sudah. Kamu setor tunai pakai rekeningku. Aku ajarin sampai bisa, ya."
Akhirnya aku pun bisa mengirim uang ke Ibu di kampung. Tentunya karena bantuan dari Nadin. Beruntungnya, aku punya teman sebaik dia.
Ibuku belum ada rekening tabungan sendiri. Aku menitipkan uangnya di Bu Tantri. Meski terkenal agak pelit soal materi, tetapi untuk urusan tolong-menolong dia tidak segan untuk membantu. Tidak memandang dari keluarga berada atau tidak, pasti dia bantu.
Sebelum kembali ke kos, aku dan Nadin berencana untuk mengisi perut. Menambah lagi energi agar kuat menjalani hari. Suara perut yang keroncongan, sudah tidak bisa ditahan. Bagaikan konser seribu penyanyi. Akhirnya, langkah kami terhenti saat melihat gerobak mi ayam dan bakso.
"Nad, kamu mau pesan apa?"
"Aku bakso aja, Yu. Soalnya bosan makan mi."
"Oh, oke. Aku juga pesan bakso, deh. Minumnya?"
"Es teh manis. Harus manis seperti aku yang tanpa pemanis," ucap Nadin diiringi senyum yang terkembang. Tampaklah kedua lesung pipinya.
"Hemm ... iya-iya, kamu manis," ujarku. "Tapi, bohong. Hahaha."
Kemudian aku memesan dua mangkuk bakso, segelas es teh manis, dan segelas es jeruk manis.
Suasana kota Tangerang yang lumayan panas, membuat es yang kami pesan sudah terminum setengah. Padahal bakso pesanan kami belum datang. Sepertinya nanti harus tambah pesanan untuk esnya.
"Ini, Neng. Bakso spesial, khusus untuk gadis-gadis nan cantik. Silakan dinikmati," ucap Abang yang jualan bakso. Sambil cengigisan dan berlalu, melayani pembeli lainnya.
"Hehehe. Terima kasih, Bang." Aku dan Nadin kompak berujar
Meski berada di kaki lima, mi ayam dan bakso di sini selalu ramai pembeli. Bahkan tak jarang kami harus antre untuk mendapatkannya. Terletak di kaki lima, tetapi rasa bintang lima.
Tiba-tiba saja teringat Ibu di kampung. Jarang sekali kami makan bakso seperti ini. Sesekali makan, jika tetangga ada hajatan dan menyuguhkan bakso.
***
Sesampainya di kos, kami di sambut oleh Mega dan Siska. Mereka teman satu shif juga. Raut wajah mereka tampak gembira, efek gajian sepertinya.
"Hai, kalian dari mana?" tanya Mega.
"Makan bakso tadi," jawab Nadin singkat.
"Habis gajian itu makan pizza, burger, atau fried chicken. Malah bakso!" saut Siska.
"Nah, betul itu kata Siska."
"Terserah kita, dong!"
Nadin mulai terpancing emosinya. Memang Mega dan Siska orangnya agak julid. Kadang tidak suka, jika ada orang lain yang tidak seperti kemauannya.
"Sudah. Kalian jangan ribut. Kita itu teman. Jangan buang energi kita, buat perdebatan yang tidak berarti," ucapku. "Ya sudah, aku mau istirahat dulu, ya."
"Hmm ... ayo kita pergi, Siska!"
Mega dan Siska pergi begitu saja. Sedangkan aku masuk ke kamar kosku. Begitu juga dengan Nadin.
Merebahkan tubuh di atas kasur sungguh nikmat. Kupandangi fotoku dan Ibu yang menjadi wallpaper hp. Bu, Ayu rindu.
Baru saja memejamkan mata, ada suara ketukan di pintu.
"Iya, sebentar." Dengan lemas kuberjalan menuju pintu. "Oh, Mpok Atik."
"Iya, Neng Ayu. Uang buat kos sudah ada?"
"Sudah, Mpok. Sebentar, ya."
Kuambil uang di dompet. Setelah memastikan jumlahnya sesuai, kuserahkan ke Mpok Atik.
"Pas, Neng. Terima kasih, ya. Oh, iya. Kamu tidak mau pindah ke kos atas? Di sana sudah dipasang AC. Jadi, kan, tidak gerah. Cuma tambah tiga ratus ribu."
"Tidak, Mpok. Ayu, di sini saja."
"Oh, ya sudah. Mpok permisi, ya."
Kututup pintu dan kembali merebahkan diri di kasur. Uang tiga ratus ribu bagiku lumayan sekali. Tidak masalah harus merasa gerah, toh masih ada kipas angin. Ada hal yang lebih penting dan bermanfaat, semoga bisa segera menabung untuk merenovasi rumah Ibu. Doakan anakmu, Bu.
Tangerang Selatan, 17 Maret 2020
NB : Adira Greisy on FB